Taman Gili Kerta Gosa

Taman Gili Kerta Gosa adalah salah satu obyek wisata andalan kabupaten Klungkung yang dibangun pada tahun 1686 oleh raja pertama Kerajaan Klungkung yaitu Ida I Dewa Agung Jambe. Sebagai salah satu peninggalan kerajaan Klungkung, Taman Gili Kerta Gosa atau yang lebih terkenal dengan nama Kerta Gosa saja, memiliki keunikan tersendiri yang tidak dimiliki obyek wisata lainnya. Kerta Gosa adalah sebuah bangunan terbuka (bale) yang secara resmi merupakan bagian dari kompleks Puri Semarapura.

Taman Gili Kerta Gosa

Terletak sekitar 40 km ke arah timur dari Kota Denpasar, kurang lebih 1 jam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor, lokasinya mudah ditemukan, karena terletak di tengah Kota Semarapura.

Taman Gili Kerta Gosa semula adalah bagian dari Kompleks Keraton Semarapura. Setelah peristiwa Puputan Klungkung pada tanggal 28 April 1908 di mana raja terakhir Kerajaan Klungkung Raja Ida I Dewa Agung Putra Jambe dan pengikutnya gugur, bangunan inti (Jeroan) Keraton Semarapura dihancurkan dan dijadikan pemukiman penduduk, menyisakan Kerta Gosa, Bale Kambang dengan Taman Gili-nya, dan Gapura Keraton. Peristiwa puputan ini diabadikan dalam Monumen Puputan Klungkung yang terletak di seberang Kerta Gosa.

Taman Gili Kerta Gosa terdiri dari dua bangunan, yaitu Bale Kerta Gosa dan Bale Kambang. Kedua bangunan tersebut memiliki ciri arsitektur tradisional Bali yang sangat kental. Keunikan dari kedua bangunan ini adalah di langit-langitnya yang dihiasi lukisan tradisional Bali gaya Kamasan. Semula lukisan ini terbuat dari kain dan parba. Pada tahun 1930, langit-langit ini diganti, kemudian lukisan yang asli direstorasi. Restorasi terakhir dilakukan pada tahun  1960, dan lukisan tersebut masih utuh hingga sekarang.

Masing-masing bangunan memiliki fungsi yang berbeda. Bale Kerta Gosa berfungsi sebagai tempat pengadilan tradisional yang dipimpin oleh raja sebagai hakim tertinggi. Fungsi ini sangat terkait dengan kisah yang ditampilkan pada lukisan di langit-langit bangunan, yaitu kisah Tantri dari kitab Swargarokanaparwa, serta kisah Bima Swarga yan bertema hukuman karma phala (akibat dari baik-buruknya perbuatan manusia). Dapat dikatakan bahwa lukisan di langit-langit bangunan Kerta Gosa memuat nilai-nilai pendidikan kerohanian berupa hukum sebab-akibat dari perbuatan manusia. Ketika kerajaan Klungkung ditaklukan oleh Belanda, Kerta Gosa masih digunakan sebagai balai sidang pengadilan. Saat ini di dalam bangunan tersebut dapat dilihat kursi dan meja dari kayu berukir yang digunakan untuk pengadilan adat tradisional di masa lalu.

Adapun Bale Kambang merupakan bangunan pendopo yang terletak di tengah-tengah kolam teratai yang disebut Taman Gili, membuat bangunan ini seperti mengambang di atas permukaan air. Bale ini berfungsi untuk tempat upacara keagamaan Manusa Yadnya (upacara kehidupan) bagi putra-putri raja, salah satunya adalah upacara mepandes (upacara potong gigi) bagi putra-putri raja yang memasuki usia akil balik. Lukisan-lukisan yang terdapat di langit-langit Bale Kambang mengambil tema dari kisah Ramayana dan Sutasoma. Di sepanjang dinding jembatan menuju Bale Kambang terdapat patung-patung yang menggambarkan tokoh-tokoh dari kisah pada lukisan di langit-langit.